Jumat, 05 September 2008
Senin, 28 Juli 2008
Senin, 21 Juli 2008
do'a seorang anak
Ya Allah,
saat ini kami teringat orang tua yang telah membesar kami Ya Allah,
Kami berdoa untuk mereka yang sudah lanjut usia,
yang karena keterbatasan tubuh,
tidak bisa lagi datang ke masjid.
Mohon lindunganMu dan berikan mereka hidayahMu.
Kami juga berdoa bagi saudara-saudara kami yang sakit,
kiranya Engkau bersama-sama mereka dan menyembuhkan mereka.
Bagi teman-teman kami yang menghadapi kemunduran iman dan masalah mohon Engkau hadir di sana dan memberikan mereka kekuatan.
Terima kasih Ya Allah untuk nikmat makanan yang Engkau berikan kepada kami sampai saat ini.
kami juga teringat pada orang-orang miskin,
para gelandangan yang kekurangan makanan.
Mereka tidak bisa menikmati makanan seperti kami ya Allah.wahai Engkau yang Maha Memberi,
berilah mereka rizkimu sehingga mereka bisa makan seperti kami."
Amin.........

Mugkin kata hanya akan menjadi kata bila tidak diucapkan…
Seperti halnya diriku…
Mungkin aku hanya manusia jika tidak ada dirimu…
Tanpa arti, tanpa tujuan…
Berjalan tanpa makna…
Tuhan pun termenu
Melihat ciptaanNya…
Ia berpikir, bagaimana mereka bisa jujur pada diriKu…
Sedangkan mereka sendiri tidak bisa berbicara jujur pada diri mereka sendiri…
aku hadir dari ketiadaan
muncul dari sesuatu imaginasi dan angan.
Bertindak dari sebuah pemikiran
dari ketiadaan aku ada
dari ada menjadi tiada
Sabtu, 08 Maret 2008
TENTANG KITA

Sudah hampir 1 tahun saya tinggal dirumah yang berbeda dengan rumah orang tua saya, tepatnya sejak tamat sekolah dulu, saya tidak terlalu sering mengkhususkan waktu untuk bicara pada orang tua saya, karena saya bisa langsung bicara. Kini, setelah berbeda rumah, saya justru lebih sering mengkhususkan waktu untuk bicara karena saya jadi lebih menyadari arti penting orang tua.Saya pernah kost sewaktu bimbel SPMB saat itu masih terbawa suasana remaja, jadi saya lebih sering memikirkan masa remaja saya dan dunia kecil saya dibandingkan memikirkan sesuatu yang saya anggap rumit seperti kesulitan hidup sehari-hari yang dialami oleh keluarga. Bukan kurang ajar juga bukan durhaka. Saya hanya memandang dunia sesederhana seperti adanya dan saya menikmati hidup yang bisa saya nikmati. Adakalanya seseorang membuat kehidupan palsu untuk menghindari kenyataan pahit. Tingkatan palsu itu sendiri bisa bertingkat-tingkat dan mungkin kehidupan palsu yang saya alami hanya dalam lingkup tidak membiarkan diri larut dalam kesulitan. Bukan cara yang baik untuk menghindar dari kenyataan namun adakalanya pikiran seorang remaja demikian pendeknya .
Saya jadi ingat, sebelum kuliah, berapapun uang saku yang saya dapat sewaktu kuliah, rasanya hilang tanpa bekas. Tak banyak yang bisa saya berikan pada orang tua saya. Defisit malah lebih sering.
Bukan seorang anak yang berbakti, memang. Memalukan. Menyedihkan.Tapi orang tua saya tidak mengeluh, juga tidak menyesali waktu yang telah lewat. Orang tua saya senang ketika saya, tanpa berkata-kata dan berjanji secara khusus, menyiapkan waktu yang lebih banyak dan secara periodik setiap minggu datang berkunjung atau bicara lewat telepon. Saya menyesali waktu yang terbuang yang tidak saya manfaatkan sebaik-baiknya namun saya juga bersyukur saya masih punya waktu untuk menyenangkan orang tua saya.Orang tua saya tidak melewati masa pendidikan seperti halnya orang tua lain. Ibu saya hanya lulus SMA dan bapak saya malah tidak tamat sekolah dasar, tapi saya bangga pada keduanya. Bangga sekali karena mereka bisa menunjukkan bahwa pendidikan non sekolah bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya. Kedua orang tua saya adalah penjahit dan dulu bukan sesuatu yang membanggakan bagi saya mendapati orang tua saya bukan seorang pegawai tinggi atau orang yang berkecukupan.Meski demikian, saya tidak tumbuh menjadi anak yang kuper. Minder memang ya, namun itu banyak membantu saya melindungi sisi rapuh saya. Minder yang bisa saya atasi sewaktu SMA dengan cara alamiah namun sekarang saya sadari, banyak dibentuk oleh orang tua saya.saya semakin menyadari bahwa orang tua saya jauh lebih baik dalam mengasuh anak tanpa selalu dicekam kekhawatiran..Diluar pendidikan anak, ada salah satu pembicaraan yang terngiang ditelinga saya soal bagaimana bapak saya bercerita soal kebijaksanaan para orang tua (untuk menyebut orang-orang diatas kakek saya). Bapak saya pernah bilang, dulu ada ramalan dari orang-orang tua bahwa satu saat nanti, orang akan (maaf) buang air didalam rumah. Sewaktu hal ini disampaikan dimasa itu, orang hanya mencemooh dan mengatakan, "Mana mungkin, memangnya orang gila ?"Ternyata, kini toilet alias WC ada pada hampir setiap rumah. Apa yang dulu disampaikan secara harfiah mungkin akan sangat aneh jika dipandang dalam konteks masa lalu, namun menjadi hal yang masuk akal dalam konteks saat ini. Dengan demikian, jika kita mendengar pepatah petitih dari orang tua, maknailah hal itu dalam konteks yang dimaksud, bukan dalam konteks ungkapan secara harfiah.Algoritma dan kebijaksanaan macam apa yang bisa saya pelajari untuk mampu membuat kesimpulan seperti yang bapak saya sampaikan ?
Saya jadi ingat, sebelum kuliah, berapapun uang saku yang saya dapat sewaktu kuliah, rasanya hilang tanpa bekas. Tak banyak yang bisa saya berikan pada orang tua saya. Defisit malah lebih sering.
Bukan seorang anak yang berbakti, memang. Memalukan. Menyedihkan.Tapi orang tua saya tidak mengeluh, juga tidak menyesali waktu yang telah lewat. Orang tua saya senang ketika saya, tanpa berkata-kata dan berjanji secara khusus, menyiapkan waktu yang lebih banyak dan secara periodik setiap minggu datang berkunjung atau bicara lewat telepon. Saya menyesali waktu yang terbuang yang tidak saya manfaatkan sebaik-baiknya namun saya juga bersyukur saya masih punya waktu untuk menyenangkan orang tua saya.Orang tua saya tidak melewati masa pendidikan seperti halnya orang tua lain. Ibu saya hanya lulus SMA dan bapak saya malah tidak tamat sekolah dasar, tapi saya bangga pada keduanya. Bangga sekali karena mereka bisa menunjukkan bahwa pendidikan non sekolah bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya. Kedua orang tua saya adalah penjahit dan dulu bukan sesuatu yang membanggakan bagi saya mendapati orang tua saya bukan seorang pegawai tinggi atau orang yang berkecukupan.Meski demikian, saya tidak tumbuh menjadi anak yang kuper. Minder memang ya, namun itu banyak membantu saya melindungi sisi rapuh saya. Minder yang bisa saya atasi sewaktu SMA dengan cara alamiah namun sekarang saya sadari, banyak dibentuk oleh orang tua saya.saya semakin menyadari bahwa orang tua saya jauh lebih baik dalam mengasuh anak tanpa selalu dicekam kekhawatiran..Diluar pendidikan anak, ada salah satu pembicaraan yang terngiang ditelinga saya soal bagaimana bapak saya bercerita soal kebijaksanaan para orang tua (untuk menyebut orang-orang diatas kakek saya). Bapak saya pernah bilang, dulu ada ramalan dari orang-orang tua bahwa satu saat nanti, orang akan (maaf) buang air didalam rumah. Sewaktu hal ini disampaikan dimasa itu, orang hanya mencemooh dan mengatakan, "Mana mungkin, memangnya orang gila ?"Ternyata, kini toilet alias WC ada pada hampir setiap rumah. Apa yang dulu disampaikan secara harfiah mungkin akan sangat aneh jika dipandang dalam konteks masa lalu, namun menjadi hal yang masuk akal dalam konteks saat ini. Dengan demikian, jika kita mendengar pepatah petitih dari orang tua, maknailah hal itu dalam konteks yang dimaksud, bukan dalam konteks ungkapan secara harfiah.Algoritma dan kebijaksanaan macam apa yang bisa saya pelajari untuk mampu membuat kesimpulan seperti yang bapak saya sampaikan ?
PERSAHABATAN

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapimembutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkanbesi,demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya. Persahabatandiwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti,diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak,namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukandengan tujuan kebencian.
Langganan:
Komentar (Atom)



