
Saya jadi ingat, sebelum kuliah, berapapun uang saku yang saya dapat sewaktu kuliah, rasanya hilang tanpa bekas. Tak banyak yang bisa saya berikan pada orang tua saya. Defisit malah lebih sering.
Bukan seorang anak yang berbakti, memang. Memalukan. Menyedihkan.Tapi orang tua saya tidak mengeluh, juga tidak menyesali waktu yang telah lewat. Orang tua saya senang ketika saya, tanpa berkata-kata dan berjanji secara khusus, menyiapkan waktu yang lebih banyak dan secara periodik setiap minggu datang berkunjung atau bicara lewat telepon. Saya menyesali waktu yang terbuang yang tidak saya manfaatkan sebaik-baiknya namun saya juga bersyukur saya masih punya waktu untuk menyenangkan orang tua saya.Orang tua saya tidak melewati masa pendidikan seperti halnya orang tua lain. Ibu saya hanya lulus SMA dan bapak saya malah tidak tamat sekolah dasar, tapi saya bangga pada keduanya. Bangga sekali karena mereka bisa menunjukkan bahwa pendidikan non sekolah bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya. Kedua orang tua saya adalah penjahit dan dulu bukan sesuatu yang membanggakan bagi saya mendapati orang tua saya bukan seorang pegawai tinggi atau orang yang berkecukupan.Meski demikian, saya tidak tumbuh menjadi anak yang kuper. Minder memang ya, namun itu banyak membantu saya melindungi sisi rapuh saya. Minder yang bisa saya atasi sewaktu SMA dengan cara alamiah namun sekarang saya sadari, banyak dibentuk oleh orang tua saya.saya semakin menyadari bahwa orang tua saya jauh lebih baik dalam mengasuh anak tanpa selalu dicekam kekhawatiran..Diluar pendidikan anak, ada salah satu pembicaraan yang terngiang ditelinga saya soal bagaimana bapak saya bercerita soal kebijaksanaan para orang tua (untuk menyebut orang-orang diatas kakek saya). Bapak saya pernah bilang, dulu ada ramalan dari orang-orang tua bahwa satu saat nanti, orang akan (maaf) buang air didalam rumah. Sewaktu hal ini disampaikan dimasa itu, orang hanya mencemooh dan mengatakan, "Mana mungkin, memangnya orang gila ?"Ternyata, kini toilet alias WC ada pada hampir setiap rumah. Apa yang dulu disampaikan secara harfiah mungkin akan sangat aneh jika dipandang dalam konteks masa lalu, namun menjadi hal yang masuk akal dalam konteks saat ini. Dengan demikian, jika kita mendengar pepatah petitih dari orang tua, maknailah hal itu dalam konteks yang dimaksud, bukan dalam konteks ungkapan secara harfiah.Algoritma dan kebijaksanaan macam apa yang bisa saya pelajari untuk mampu membuat kesimpulan seperti yang bapak saya sampaikan ?

1 komentar:
Ya.. Penyesalan akan datang belakangan ngga.. Tapi sekarang terus berfikir ke masa depan.
Ya sekarang menurut stev.. Buat Orang Tua Angga bangga sama Angga.. Karena Anak adalah
kebanggan orang tua.. Harta yang paling berharga bagi Orang Tua..
Kayaknya anngga lebih beruntung dari stev.. Angga masih mempunyai orang tua.. Lengkap lagi..
Sedangkan stev hanya mempunyai mama stev.. Tapi stev bangga sama mama stev.. ia adalah pekerja keras.. Ia rela bekorban bagi anak-anaknya..
Mulai dari sekarang saran stev ya.. Buat orang Tua Angga sama Angga.. Dan berikan yang terbaik bagi Orang Tua Angga dan Kepada semua orang yang menyayangi Angga..
Karena Angga Adalah kebanggaan semua orang.. Mulai dari sekarang Pikirkan masa depan angga..
Karena masa depan angga terletak sama angga sendiri.. OK.. Thks..
Posting Komentar